Dimulai dari sebuah pertanyaan polos seorang anak SD ketika gurunya sedang mengajar,
“Bu, bergunjing itu apa?”
“Bergunjing itu perbuatan yang JELEK sekali dan berdosa, nak. Bergunjing itu artinya membicarakan keburukan orang lain.”
“Kalau yang dibicarakan itu kebaikannya bagaimana, Bu?”
“Walau yang dibicarakan kebaikannya pun, tidak baik membicarakan orang lain, nak…”
Semua anak manusia di dunia ini mungkin sejak kecil dibekali pengetahuan seperti itu. Semua anak pun akan mengiyakan dan mengangguk patuh ketika dikatakan tidak boleh bergunjing.
Termasuk gw.
Oke, waktu berlalu bertahun-tahun. Dan gw tiba-tiba mendapati diri duduk di bangku yang bukan lagi murni dari kayu, dengan rok yang tidak berwarna merah, tetapi biru luntur yang menurut gw aneh dan suram, sebenarnya.
Well, SMA. Umur gw pun udah nggak terdiri dari satu digit lagi. Malaikat Izroil mendekat sejengkal demi sejengkal setiap tahun digit satuan umur gw berubah.
Sampai tahun-tahun dimana urat malu gw akhirnya nyambung ini, pada BAB ‘akhlakul mazmumah’, guru agama masih selalu melarang anak-anak muridnya untuk bergunjing.
Yang menurut agama memang BURUK sekali, perbuatan itu. Dan kalau dilogikakan, mengapa repot-repot mengurusi orang, kalau diri sendiri saja belum benar? Sombong kah, sudah merasa paling baik akhlak dan pribadinya?
Logika tepat, dalil naqli lebih dari sekedar jelas.
Gw setuju sama semua teori itu, amat sangat. Walaupun sambil menikmati dan menyaksikan perubahan-perubahan nyata dalam pertumbuhan dan perkembangan gw, sekali dua kali tiga kali empat kali lima… ah tak terhitung, gw bergunjing.
Sekarang, sambil menghirup aroma hujan yang menyegarkan dan merasakan dinginnya angin yang diberi free pass lewat jendela yang sengaja dibuka itu, gw berpikir.
Sampai saat ini, gw udah sering sakit hati karena digunjing dan menyakiti hati orang lain karena bergunjing.
Lalu muncul pertanyaan yang… adakah orang di luar sana yang bisa menjawabnya, tolong?
Apa ada orang di dunia ini yang normal, yang menjalani hidupnya tanpa membicarakan keburukan orang lain satu kali pun?
Kok gw rasa nggak ada, ya?
Dari tujuan ‘belajar dari pengalaman orang lain’, aja, misalnya. Ada orang yang sombong, menyebalkan, dibenci orang karena satu, dua, tiga, empat alasan.
Orang itu dikenal oleh orang lain, misalnya si A. orang yang punya segudang sifat buruk itu lalu mengalami hal buruk.
Jika si A orang yang baik, ia akan membagi hal yang ia ketahui pada orang-orang terdekatnya, dan menjadikannya sebagai pelajaran. Tapi sebelumnya ia juga harus menceritakan segala keburukan orang tadi, kan?
Bukankah itu juga bergunjing?
Lanjut ke konteks lain, misalnya ada orang yang dijahati dan dinakali. Dia menceritakan pada ibunya segala keburukan orang itu. Itu bukan bergunjing, kah?
Atau segala kebingungan ini karena keterbatasan definisi bergunjing yang hanya berupa : ‘membicarakan keburukan orang lain’ itu?
Oke, misalnya diganti, konteks bergunjing itu :
Bicara yang jelek-jelek soal orang lain karena kebencian dan perasaan pribadi kepada orang lain agar orang lain ikut membencinya.
Yap. Kalau itu, sih, semua pasti setuju kan, nggak benar, baik, apalagi terpuji?
Tapi terus gw mikir lagi.
Misalnya ada seorang teman yang sombong. Diibaratkan A. Lalu ada temannya yang jadi membencinya, misalnya B.
Lalu B mengatakan pada C, bahwa A itu sombong, dan bla bla bla. Seandainya C jadi membenci A juga. Menurut gw, sih, C bakal percaya kalau liat bukti konkretnya. Dan kalau gossip itu menyebar dan tak ada lagi yang mau berteman dengan si A, dan kalau punya otak yang sering dipakai, pasti si A ujung-ujungnya bakal introspeksi diri juga, kan?
Coba pikir kalau si B yang nggak suka sama A ngomong ke A baik-baik.
Ada kemungkinan dia yang sombong itu malah marah dan memusuhi B, kan?
Yang terjadi adalah 2 hal buruk. Si A tetap sombong, dan si B dimusuhi A.
Dan walaupun akhirnya mungkin B akan tetap dimusuhi si A, toh si A setidaknya akan introspeksi juga.
Jadi? Sebenarnya status bergunjing itu apa, sih???
Gw nggak mau dan nggak bisa bilang kalau sebenarnya bergunjing itu bagus juga,
Cuma gara-gara baru-baru ini gw ditemplokin setan, terus bergunjing sana sini sama orang-orang yang kebetulan terganggu akan hal yang sama.
Well, yah. Gw punya alasan lebih pribadi dan lebih dalem kenapa gw bisa nggak suka sama ‘orang itu’ dibanding alasan orang-orang lain, teman bergunjing gw.
Biasanya gw simpen aja dan berusaha nggak terlalu deket.
Tapi gw yang lagi terbakar api BT dan terbujuk syaiton laknat menuliskannya sebagai pelampiasan. Yah, daripada banting barang, gitu?
Gw tau, bergunjing cuma akan berakhir dengan sakit hati dan permusuhan, dan itu memang terjadi.
Gw ngerti gw salah.
Dan gw bukan orang yang se-nggak-tau-diri itu, sampe bisa nyapa orang yang udah gw sakitin dengan muka polos tanpa dosa ketika suasana sudah mereda sekalipun. Yah, gw bakal diem. Kalo sebelum ini gw belum diem, mulai sekarang gw bakal diem.
Tapi sebenernya gw menyayangkan.
Orang yang sadar ia digunjing, sakit hati, lalu marah-marah mengatakan.
“JANGAN NGOMONGIN ORANG DI BELAKANG, DONG! NGOMONG AJA SEKALIAN DI DEPAN!”
Coba pikirkan, seandainya,
Orang itu ngomongin lo di depan lo, apa lo nya nggak tambah marah? Pernah terpikir, nggak, itu cuma salah satu cara untuk ngejaga perasaan lo, dan untuk bertanya pada orang lain dulu, apa benar penilaian buruknya itu objektif terhadap lo?
Orang yang sadar ia digunjing, sakit hati, lalu marah-marah mengatakan.
“BERGUNJING AJA KERJAAN LO! DOSA, WOY! KAYAK LO UDAH BAGUS AJA, SIH!”
Well. Sebenernya nggak ada yang bisa disangkal dari pernyataan ini.
Tapi pernah terpikir, nggak, kalo dia cuma pingin lo menghentikan kebiasaan buruk itu, hingga waktu-waktu berikutnya, nggak ada lagi yang bermasalah sama sikap lo??
Walaupun nggak berpikir gitu, pernah terpikir, nggak, kalo lo yang sakit hati cerita ke orang lain dengan penuh amarah, berarti sama aja lo bergunjing juga??
Yah, nggak semua penggunjing-penggunjing berpikir kayak gitu, sih…
Tapi seenggaknya digunjingkan bisa melatih kesabaran dan kemampuan introspeksi dan lapang dada serta berpikir positif mengenai diri sendiri dan orang lain, kan?
#walaupun gw merasa kurang ajar dan sok tahu, ngomong gini.
Ah, pusing, lah, mikirin orang yang bergunjing sama yang sakit hati karena digunjing. =__=”
Kita sudahi saja.
Mari kita sama-sama introspeksi diri saja. Jika bergunjing itu sulit sekali dihindari, mengapa tak kita saja yang berusaha menjadi pribadi yang sebaik mungkin adar tidak digunjingkan atau bergunjing?
Seperti logika, urusi saja diri sendiri.
Keep moving forward.^^
Toh roda kehidupan tetap akan berputar apapun yang dilalunya.
Kadang kita di atas, kadang di bawah.
Itu sudah merupakan ketetapan yang sudah ditetapkan sejak dulu, bukan??
2 komentar:
wkwkwk nyindir balik nih? :p
ada banyak orang yang menjalani hidupnya tanpa bergunjing yaitu...
orang yang bisu sejak lahir.
kagak, sih, sebenernya. :p
cuma mikir aja.
(walopun kalo orang bersangkutan baca, pasti dalem hati langsung pingin nampar gua bolak balik. :p)
kan gua tulis orang NORMAL, Deaaa... wkwkwk.
Posting Komentar